Jika seseorang sedang sholat, Apakah diharuskan tepat menghadap ke bangunan ka'bah atau
cukup menghadap ke arah kiblat saja?
ada perbedaan pendapat di antara Ulama':
لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي أَنَّ مَنْ قَدَرَ
عَلَى رُؤْيَةِ الْكَعْبَةِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَوَجَّهَ إلَى عَيْنِ الْكَعْبَةِ، وَلاَ يَجُوزُ لَهُ الاِجْتِهَادُ، وَاخْتَلَفُوا
فِيمَنْ غَابَ عَنِ الْكَعْبَةِ وَلاَ يَقْدِرُ عَلَى رُؤْيَتِهَا لِبُعْدِهَا
عَنْهُ، هَل فَرْضُهُ إصَابَةُ عَيْنِ
الْكَعْبَةِ أَوِ الْجِهَةُ؟
فَذَهَبَ قَوْمٌ إلَى أَنَّ الْفَرْضَ هُوَ الْعَيْنُ، وَذَهَبَ آخَرُونَ إلَى أَنَّهُ الْجِهَةُ
(الموسوعة الفقهية الكويتية: 32/302)
Tidak
ada perbedaan di antara Ulama’ tentang orang yang mampu melihat ka’bah, maka
wajib baginya untuk menghadap tepat ke bangunan ka’bah dan tidak dibolehkan
ijtihad (mengira-ngira arah kiblat),
Dan
mereka berbeda pendapat tentang orang
yang ka’bah tersebut tidak di hadapannya dan tidak mampu untuk melihat
ka’bah secara langsung, sebab jauhnya jarak ka’bah dengan dirinya,
Apakah
yang wajib baginya, tepat mengenai bangunan ka’bah atau cukup dengan arah
ka’bah saja?
Satu kelompok Ulama’ berpendapat:
Yang fardhu adalah tepat menghadap bangunan ka’bah, sementara Ulama’ lain
berpendapat: yang fardhu adalah menghadap arah kiblat.
(Almausu’ah Alfiqhiyah
Alkuwaitiyah: 32/302)
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الصَّحِيحَ عِنْدَنَا أَنَّ
الْوَاجِبَ إصَابَةُ عَيْنِ الْكَعْبَةِ وَبِهِ قَالَ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ
وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْوَاجِبُ الْجِهَةُ وَحَكَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عمرو ابن الْمُبَارَكِ
(المجموع شرح
المهذب: 3/208-209)
Kami
telah menyebutkan bahwa yang benar menurut kami adalah: Yang wajib adalah,
mengenai (tepat lurus dengan) bangunan ka’bah (ketika menghadap kiblat saat
sholat), ini juga pendapat sebagian madzahab Malikiyah dan salah satu riwayat
dari imam Ahmad.
Sementara
imam Abu Hanifah mengatakan: Yang wajib adalah, (menghadap) arah kiblat, hal
tersebut diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Umar bin Alkhothob, Ali bin Abi
Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnul Mubarok
(Al Majmu’: 3/208-209)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar