Apakah Boleh Berpindah Madzhab?
Boleh
قَالَ ابْنُ الْجَمَّالِ: (اِعْلَمْ) أَنَّ الْأَصَحَّ مِنْ كَلَامِ الْمُتَأَخِّرِينَ
-كَالشَّيْخِ ابْنِ حَجَرٍ وَغَيْرِهِ- أَنَّهُ يَجُوزُ الِانْتِقَالُ مِنْ مَذْهَبٍ إلَى مَذْهَبٍ
مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُدَوَّنَةِ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ التَّشَهِّي، سَوَاءٌ انْتَقَلَ دَوَامًا أَوْ فِي بَعْضِ الْحَادِثَةِ، وَإِنْ أَفْتَى أَوْ حَكَمَ وَعَمِلَ بِخِلَافِهِ مَا لَمْ يَلْزَمْ مِنْهُ التَّلْفِيقُ.
(إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين: 4/250)
Ibnu Jamal
mengatakan: (Ketahuilah),
Yang benar dari
pendapat para Ulama’ mutaakhirin, seperti Syaikh Ibnu Hajar dan yang lainnya,
adalah:
Bolehnya berpindah
dari satu madzhab ke madzhab yang lain dari madzhab-madzhab yang ada,
Walau hanya sekedar
suka saja,
sama saja
perpindahannya tersebut selamanya atau hanya dalam sebagian kasus saja,
meskipun ia memfatwakan sesuatu atau memutuskan hukum, tetapi ia malah mengamalkan yang tidak sesuai dengan yang ia fatwakan, selama tidak terjadi talfiq (pencampuran beberapa pendapat yang berbeda)
(I’aanatuttholibin: 4/250)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar