Hukum asalnya menggunakan barang curian adalah tidak boleh
قاعدة: لا يجوز لأحد أن يتصرف في ملك الغير أو حقه بلا إذن:
لأن في التصرف بدون إذن اعتداء على حق المالك.
(الوجيز
في إيضاح قواعد الفقة الكلية: 1/390)
Kaidah:
Tidak
dibolehkan bagi seseorang untuk menggunakan barang milik orang lain atau hak
orang lain tanpa izin:
Sebab
dalam penggunaan tanpa izin tersebut ada bentuk pelanggaran terhadap hak sang
pemilik barang
(Al
Wajiz: 1/390)
Kecuali ia tidak tahu bahwa barang tersebut adalah hasil curian, yang ia tahu adalah barang tersebut diperoleh dengan cara yang halal.
Jika saat memakai barang curian
tersebut ia tidak tahu bhawa barang tersebut adalah hasil curian, yang ia tahu adalah barang terseut diperoleh dengan cara yang halal, maka ia tidak
berdosa, tapi setelah ia tahu, maka ia tidak boleh menggunakannya lagi…
فائدة: لو أخذ من غيره بطريق جائز ما ظن حله وهو حرام باطنا فإن كان ظاهر المأخوذ منه الخير لم يطالب في الآخرة وإلا طولب قاله البغوي.
(فتح المعين بشرح قرة العين
بمهمات الدين: 319)
Faidah:
Seandainya
ada seseorang mengambil sesuatu yang diduga halal dari
orang lain dengan jalan yang jaiz (boleh), padahal sesuatu tersebut adalah
haram secara bathin (tidak nampak), maka bila dhahir barang tersebut adalah
baik, maka ia tidak akan dituntut di akhirat, namun, bila dhahir barang
tersebut tidak baik, maka ia kelak akan dituntut di akhirat, sebagaimana yang
dikatakan oleh Al Baghowy.
(Fathul
Mu’in: 319)
(قوله: ما ظن حله) مفعول أخذ، أي أخذ شيئا يظن أنه حلال، وهو في الواقع ونفس الأمر حرام، كأن يكون مغصوبا أو مسروقا.
(إعانة
الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين: 3/13)
(Perkataannya:
sesuatu yang
diduga halal) maf’ul dari kata “akhodza”, naksudnya: Mengambil
sesuatu yang diduga bahwa ia adalah halal, padahal dalam kenyataan dan permasalahan tersebut adalah haram, seperti misalnya barang hasil rampasan dan
barang hasil mencuri.
(I’aanathut
Tholibin: 3/13)
_Wallahu A’lam_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar