Solusi Mengembalikan Harta Haram Jika Tidak Diketahui Pemiliknya


وقعت في يده أموال حرام ومظالم وأراد التوبة منها ، فطريقه أن يرد جميع ذلك على أربابه على الفور ،

فإن لم يعرف مالكه ولم ييأس من معرفته وجب عليه أن يتعرفه ويجتهد في ذلك ، ويعرفه ندباً ، ويقصد رده عليه مهما وجده أو وارثه،

ولم يأثم بإمساكه إذا لم يجد قاضياً أميناً كما هو الغالب في هذه الأزمنة اهـ. إذ القاضي غير الأمين من جملة ولاة الجور ،

وإن أيس من معرفة مالكه بأن يبعد عادة وجوده صار من جملة أموال بيت المال ، كوديعة ومغصوب أيس من معرفة أربابهما ، وتركة من لا يعرف له وارث ، وحينئذ يصرف الكل لمصالح المسلمين الأهم فالأهم ، كبناء مسجد حيث لم يكن أعم منه ، فإن كان من هو تحت يده فقيراً أخذ قدر حاجته لنفسه وعياله الفقراء كما في التحفة وغيرها
(
بغية المسترشدين: 329)

Ada harta haram dan harta hasil kedholiman pada diri seseorang dan ia ingin bertaubat darinya,

maka caranya adalah segera mengembalikan seluruh harta tersebut kepada pemiliknya.

Jika tidak diketahui pemiliknya dan ia belum putus asa untuk mencari tahunya, maka ia wajib mencarai tahu dan bersungguh-sungguh dalam mencaritahunya, dan dianjurkan juga untuk mengumumkannya dengan maksud untuk mengembalikannya begitu ia mendapatkan pemiliknya atau ahli waritsnya.

Ia tidak berdosa dengan menahan/memegang (sementara) harta tersebut, jika belum mendapatkan qodhi yang amanah, sebagaimana umumnya pada zaman sekarang ini, sebab qodhi yang tidak Amanah merupakan bagian dari penguasa yang dholim.

Tetapi jika ia sudah merasa putus asa untuk mencaritahu pemiliknya, biasanya karena keberadaannya yang jauh, maka harta tersebut menjadi bagian dari harta baitul maal, seperti harta titipan dan harta rampasan yang tidak ada harapan untuk mengetahui pemiliknya, dan juga seperti harta warisan yang tidak diketahui ahli waritsnya,

maka ketika itu seluruh harta tersebut  dialokasikan untuk kemaslahatan kaum muslimin yang terpenting dari yang penting, seperti membanmgun masjid, dimana tidak ada kemaslahatan yang lebih umum daripada kemaslahatan untuk masjid, dan jika ia termasuk orang fakir (atau merawat orang fakir), maka ia boleh mengambil sekadar hajatnya saja untuk diri atau keluarganya yang fakir, sebagaimana dalam kitab “At Tuhfah dan yang lainnya.

(Bughyatul Mustarsyidin: 329) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar